Sejarah Pencak Silat

Perguruan Seni Pencak Bandarkarima

Menelusuri jejak warisan bela diri tradisional yang menjadi kebanggaan Nusantara

Akar Tradisi dan Warisan Ilmu

Perguruan Seni Pencak (PSP) Bandarkarima merupakan institusi bela diri tradisional yang berdiri di atas fondasi nilai-nilai luhur dan warisan budaya bangsa. Sejarahnya berakar dari tokoh-tokoh pencak silat Nusantara yang meletakkan dasar keilmuan dan metode pelatihan yang otentik, sarat makna, dan relevan hingga masa kini.

"Pencak silat bukan hanya tentang gerakan fisik, tetapi juga tentang pembentukan karakter dan spiritual yang menjadi pondasi kehidupan."

Akar utama ilmu PSP Bandarkarima bermula dari sosok Raden Ateng Alimudin, seorang bangsawan sekaligus pendekar silat legendaris dari wilayah Cianjur. Pada masanya, beliau dikenal sebagai tokoh yang memiliki pengaruh besar di lingkungan sekitar, dan keahliannya dalam silat membuatnya dihormati luas. Salah satu kisah paling dikenal adalah keberaniannya dalam menumpas kerusuhan yang ditimbulkan oleh para pengawal kereta barang dagang Cina (piawsu) – dilakukan seorang diri dengan kemampuan luar biasa.

Keilmuan tersebut diwariskan kepada adik iparnya, Raden Haji Ibrahim, murid sekaligus pewaris kepercayaan yang paling menonjol. Raden H. Ibrahim kemudian memperkaya ilmu yang diterimanya dengan berguru kepada tiga tokoh silat besar di Batavia, yaitu Bang Madi, Bang Ma’ruf, dan Bang Kari. Dari ketiga guru tersebut, beliau memperoleh teknik-teknik peningkatan kecepatan gerak, kekuatan lahir dan batin, serta penguasaan spiritual dalam pencak silat.

Setelah menyelesaikan masa belajarnya, Raden H. Ibrahim kembali ke kampung halamannya di Cikalong, dan mulai mengajarkan ilmunya secara terbatas kepada para bangsawan Cianjur. Beliau sadar bahwa di tingkat lanjut, pelatihan memerlukan pendekatan yang sistematis dan aman. Maka, lahirlah metode latihan usik dan tapelan, pendekatan inovatif yang memungkinkan pembelajaran teknik silat tingkat tinggi dengan risiko cedera minimal.

Kelahiran PSP Bandarkarima

H.M. Yosis Siswoyo

Lahir: 25 November 1943, Bandung

Pendiri PSP Bandarkarima

Tonggak sejarah institusional PSP Bandarkarima ditandai oleh figur Bapak H.M. Yosis Siswoyo, yang lahir di Bandung, 25 November 1943. Masa kecil beliau dilalui dalam situasi penuh pergolakan, yaitu saat perjuangan kemerdekaan dan revolusi nasional sedang berlangsung. Keadaan ini membentuk karakter kuat dalam diri beliau: keras hati, pantang menyerah, dan teguh dalam prinsip.

Menyadari potensi besar dalam dirinya, sang ayah mengarahkan Yosis muda untuk menyalurkan energi dan semangatnya melalui jalur positif, yakni pencak silat. Dalam proses pencarian ilmu, beliau belajar dari banyak guru hingga akhirnya mendapatkan pembinaan mendalam dari dua tokoh utama: Den Popo dan Den Karta.

Awalnya, beliau digembleng oleh murid-murid Den Popo, yaitu Pak Casmedi dan Pak Yayat. Setelah melalui proses dasar yang cukup matang, barulah ia belajar langsung kepada Den Popo. Tokoh ini merupakan putra dari Gan Utuk, yang secara silsilah adalah murid dari murid Raden H. Ibrahim. Dari jalur ini, mengalir ilmu Sabandar dan Cikalong secara otentik kepada Pak Yosis.

Selanjutnya, beliau memperkaya pemahaman bela dirinya dengan olah batin dan kanuragan dari Den Karta, seorang jawara silat karismatik dengan kesaktian luar biasa. Den Karta dikenal luas karena penguasaan banyak aliran silat, mata merah darah yang khas, dan kedalaman spiritual yang unik. Pengaruh Den Karta turut membentuk aspek mental, spiritual, dan kedalaman ilmu dalam pribadi Pak Yosis.

"Ketika pada era 1960-an bela diri asing mulai berkembang pesat di Indonesia, beliau merasa terpanggil untuk mengangkat kembali pencak silat sebagai jati diri bangsa."

Setelah melalui proses panjang dan kontemplatif, Pak Yosis berhasil merumuskan sistem pembelajaran silat yang efektif, efisien, dan sarat nilai-nilai etika dan kebangsaan. Ketika pada era 1960-an bela diri asing mulai berkembang pesat di Indonesia, beliau merasa terpanggil untuk mengangkat kembali pencak silat sebagai jati diri bangsa. Maka, pada bulan Juni 1967, didirikanlah unit latihan Bandarkarima di SMAN 3 Bandung, yang pada awalnya diikuti oleh 60 anggota pertama.

6 Juni 1967

Tanggal 6 Juni ditetapkan sebagai hari jadi resmi PSP Bandarkarima, dan menjadi momentum historis dalam perkembangan pencak silat Indonesia.

Makna Nama dan Filosofi

Asal Usul Nama

Nama Bandarkarima merupakan sebuah akronim dari tiga nama tokoh besar yang menjadi inspirasi utama dalam struktur ilmu dan karakter perguruan ini. Ketiga tokoh tersebut membawa nilai dan karakteristik khas yang membentuk fondasi PSP Bandarkarima.

Sabandar

Menonjolkan kelenturan, efisiensi gerak, dan fleksibilitas teknik dalam menghadapi berbagai situasi pertarungan.

Kari

Membentuk karakter pendekar yang siap tempur, tangguh, dan penuh determinasi dalam menghadapi tantangan.

Madi

Menguatkan dasar kekuatan, keteguhan tenaga, dan eksplosivitas dalam serangan yang menentukan.

Tiga Pilar Filosofi

Ketiga elemen tersebut berpadu
dalam satu sistem pelatihan terpadu
yang menumbuhkan pendekar
dengan kekuatan lahir dan batin.

Bandarkarima

PERGURUAN SENI PENCAK